Select Page

Setelah sejumlah rangkaian acara Grebeg Suro terlaksana, puncak acara perayaaan 1 Suro atau 1 Muharram itu ditutup dengan ritual Larung Sesaji di Telaga Ngebel, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo, Sabtu (25/10/2014). Acara yang kini disebut Larung Risalah Doa itu merupakan bentuk rasa syukur masyarakat Ponorogo, khususnya warga Ngebel yang diberikan keselamatan selama setahun. ‘

Ucapan syukur itu dilaksanakan dengan menghayutkan tumpeng raksasa dan hasil bumi sebagai bentuk dileburnya balak sengkala dari Ponorogo. Acara sakral ini tetap menjadi acara menarik yang menarik wisatan mengunjung Ponorogo mulai wisatawan lokal Ponorogo sampai sejumlah wilayah Kabupaten lain di wilayah barat Jawa Timur.

Acara ini dilengkapi dua tumpeng raksasa. Satu terbuat dari sayuran (hasil bumi) dan yang satu tumpeng beras merah.Tumpeng beras merah dilarung di tengah telaga dan tumpeng hasil bumi menjadi tumpeng porak yang dijadikan rebutan pengunjung karena diyakini untuk mendapatkan berkah.

Acara itu, diawali dengan berbagai tarian daerah mulai tayub hingga reog yang diperagakan gadis-gadis cantik asal Ngebel di dermaga Telaga Ngebel. Namun sebelum tumpeng beras merah dilarung di tengah telaga dan tumpeng porak dijadikan rebutan, sebelumnya kedua tumpeng raksasa itu di bawa keliling telaga sejauh 5 kilometer.

“Larungan Risalah Do’a (Larung Sesaji) ini sudah dimulai Tahun 1993,” terang Budi salah seorang tokoh masyarakat Ngebel kepada Surya, Sabtu (25/10/2014).

Lebih jauh Budi menguraikan, larung bermual saat Telaga Ngebel dikenal sebagai tempat wingit alias angker. Setiap tahun banyak orang yang tenggelam di telaga. Semakin tahun jumlahnya semakin bertambah.

Dari kejadian tersebut, Camat Ngebel, Winadi mengadakan musyawarah dengan para Kepala Desa dan sesepuh Kecamatan Ngebel. Saat itu duputuskan untuk diadakan upacara keselamatan di tiap pertigaan dan perempatan Kecamatan Ngebel pada malam 1 Suro. Selain itu ditambah pula dengan diadakannya larungan di Telaga Ngebel.

“Upaya ini dilakuakn dengan tujuan memberikan penghormatan kepada roh-roh halus dan ucapan rasa syukur serta meminta perlingdungan Tuhan. Dinamakannya larung risalah do’a karena sesaji-sesaji yang digunakan dalam larungan itu mengandung simbol permohonan do’a kepada Tuhan Yang Maha Esa,” imbuhnya.

Konon, kata Budi pascadigelar larungan sesaji di Telaga Ngebel tidak ada lagi korban tenggelam di telaga.  Oleh karenanya, acara larung ini masih terus dilaksanakan dan dilestarikan hingga sekarang lantaran merupakan penghormatan kepada roh-roh halus dan salah satu aset budaya warisan nenek moyang yang wajib dilestarikan.

“Upacara adat larungan sesaji ini dilakukan menjadi dua bagian,” ungkap pria berusia 70 tahun ini.

Kata Budi bagian yang pertama dilakukan malam hari menjelang 1 Suro. Bagian ini prosesi yang dilakukan diawali penyembelihan kambing kendhit. Kambing yang disembelih diarak mengelilingi telaga. Saat mengarak salah satu sesepuh akan berhenti di setiap penjuru telaga yaitu penjuru utara, selatan, timur, dan barat untuk menanam kaki kambing yang disembelih sebagai cok bakal.

“Pengarakan tersebut berakhir di depan dermaga telaga. Saat di depan telaga dilakukan penanaman kepala dan darah kambing serta pelarungan buceng alit dan pitik abang,” paparnya.

Sedangkan bagian kedua kata Budi dilaksanakan pagi hari setelah prosesi bagian yang pertama dilaksanakan. Bagian kedua sama dengan bagian yang pertama. Bedanya, yang dilarungkan berbeda. Prosesinya diawali pengarakan buceng agung dan buceng buah sayuran. Kemudian dilanjutkan dengan melarungkan buceng agung ke tengah telaga. Sementara buceng buah dan sayuran tidak dilarung, akan tetapi diperebutkan para pengunjung.

“Beberapa piranti yang harus ada saat larung sesaji memiliki makna sendiri-sendiri. Gunugan lambang Gung wilis karena Ngebel berada di lereng Gunung Wilis, Gunung Ageng simbol kebesaran Tuhan, Gunungan Buah dan Sayur simbol ungkapan rasa syukur warga Ngebel kepada Tuhan atas hasil buminya, Buceng Alit, yakni kata buceng nyebuto sing kenceng (sadarlah), tumpeng beras abang simbol kesuburan Ngebel dan simbol keberanian terhadap kebenaran, Pitik (Ayam) Abang (merah) simbol keihklasan berkorban kambing kendit simbol kendhitan yaitu manusia yang suka mengumbar hawa nafsu agar dikekang, kaki kambing lambang tolak balak, kepala kambing lambang simbol jangan sampai besar kepala (sombong) karena semua akan kembali ke bumi, serta cok bakal lambang asal muasal manusia,” ungkapnya.

Sedangkan sesepuh Ngebel lainnya, Bibit menguraikan jika Telega Ngebel berasal dari cerita adanya dua manusia yaitu Baru Klinting (Anak Banjang) dan janda Nyai Latung. Yakni adanya ular besar yang terlukai kemudian menjadi anak kecil. Selanjutnya, anak kecil itu kesana kemari minta dirawat. Akan tetapi tidak ada warga yang mau merawatnya. Saat itu, anak laki-laki Baru klinting datang ke Nyai Latung. Seketika itu, Nyai Latung mau merawat Baru klinting.

“Ketika bikin sayembara, Baru Klinting menancapkan lidi ke tanah. Siapa yang kuat mencabut lidi, hasilnya ternyata tidak ada yang kuat mencabutnya. Setelah dicabut keluarlah mata air yang kemudian jadilah Telaga Ngebel. Semua warga yang menolak Baru Klinting tenggelam. Hanya Nya Latung yang selamat naik perahu (lesung). Itulah dongeng yang berkembang turun temurun di kampung kami,” urainya.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Pemkab Ponorogo, Sapto Jadmiko menegaskan terlepas dari kisah dan dongeng itu, yang jelas Telaga Ngebel adalah aset yang harus diramaikan dan harus dipelihara serta terus dikembangkan menjadi wisata alam yang menarik. Apalagi, yang ditawarkan adalah panorama alam yang masih perawan. Selain telaga ada air hangat, air terjun, serta sentra susu kambing etawa pun harus dikembangkan.

“Makanya pengunjung dalam acara larung ini meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Dampaknya dirasakan warga Ngebel mulai pengiapan dan hotel dipenuhi pengunjung, kuliner makin laris manis dan mampu memberikan pemasukan dari kunjungan wisatawan untuk Pemkab Ponorogo,” pungkasnya tanpa menyebutkan nilai real kenaikan itu.

Sumber: surya.co.id
Penulis: Sudarmawan
Editor: Satwika Rumeksa

Pin It on Pinterest

Share This