Select Page

Hari ini saya dan teman saya mencoba untuk survey disalah satu gunung yang ada di Madura. Karena saya penasaran dan ingin mengetahui langsung, akhirnya saya putuskan mengajak teman saya yang asli sana. Dari Surabaya kami berangkat pukul 08.45 WIB dengan berkendara sepeda motor. Tiba ditempat pukul 10.25, perjalanan sedikit terhambat karena dipasar Tanah Merah Madura banyak penjual hewan Qurban.

Gunung Geger ini terletak di Laok Kunong, Geger, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Sepanjang perjalanan saya disugui dengan pemandangan alam yang indah. Kebetulan waktu saya kesana banyak padi yang sudah dipanen, sehingga banyak yang membakar jerami disawah. Kota Madura memang panas kalau siang hari, namun saat pagi hari dan malam akan terasa dingin seperti di kota Malang.

Rute jalannya juga tidak terlalu rumit, bahkan bisa dibilang tidak terlalu banyak belokan. Akses jalannya tidak terlalu buruk, ya meski ada jalan yang sedikit rusak dikarenakan tanahnya yang mudah longsor. Jalan menuju ke Gunung Geger seperti di Wonosalam Jombang. Pinggir jalan masih tidak terlalu padat rumah dan masih ada lahan kosong yang tidak ada pohonnya. Pada saat itu di Madura sedang banyak acara,  lomba Gerak Jalan dan Karapan Sapi. Sayangnya untuk melihat Karapan Sapi saya tidak bisa, karena waktunya tidak tepat.

Untuk dapat sampai di area parkir kita harus melewati jalan yang menanjak. Biaya parkir cuma 2000 rupiah untuk sepeda motor, untuk mobil 5000. Untuk masuk Gunung Geger tidak dipungut biaya, tetapi harus tetep sopan dan ngikuti aturan ya!.Akses menuju puncaknya kita menaiki anak tangga yang ada dibelakang warung sebelah kanan jalan.  Saat saya dan teman saya sampai disana tempatnya masih sepi, hanya ada warga sekitar saja. Jangan kaget bila saat menaiki tangga kalian dihampiri monyet karena disana masih terdapat monyet liar.

Tangga terakhir menunjukkan kita sudah berada diare Gunung Gegger, disana juga terdapat warung yang menyediakan makanan ringan dan minum. Pemandangannya sangat indah dengan pepohonan yang rindang dan hijau. Tetapi ada hal yang sangat saya sayangkan, masih banyaknya pengunjung yang tak cukup sadar akan kebersihan. Sehingga membuang sampah sembarangan dan  hal tersebut tidak diimbangi dengan adanya tempat sampah yang memadai. Ada namun tidak banyak.

Gunung ini memiliki sejarah yang luar biasa untuk kota Madura. Dikarenakan sejarah kota Madura sendiri bermula digunung ini. Dari cerita teman saya, dulu ada seorang putri bernama Dewi Ratna Rorogung, anak dari Patih Pranggulan dari Kerajaan Medang, Jawa yang dibuang disini. Di ceritakan bahwa Putri Dewi Ratna Rorogung (Potre Koneng) dibuang oleh sang ayah di pulau Madura ini. Asal muasalnya dikarenakan Putri Dewi Ratna Rorogung hamil dan tidak mengetahui siapa yang menghamilinya. Pernyataan yang dilontarkan oleh Dewi Ratna Rorogungadalah dia bermimpi berhubungan dengan seseorang dalam mimpi lalu saat bangun putri Dewi Ratna Rorogung sudah dalam keadaan hamil. Sontak kabar tersebut membuat sang Patih Pranggulan sangat marah besar. Patih Pranggulan hendak ingin membunuh putrinya tersebut, dikarenakan tidak tega Patih Pranggulan membawahnya ke pulau Madura dan menjadi orang pertama yang menginjakkan kaki di pulau Madura.

Akhirnya Putri Dewi Ratna Rorogung dibiarkan sendiri di pulau itu dengan kondisi hamil. Putri Dewi Ratna Rorogung suka bersemedi di tepi tebing yang menyerupai kursi. Untuk pengunjung tidak boleh menginjak dan mendudukinya. Rutinitas tersebut terus dilakukan Putri Dewi Ratna Rorogung  setiap menjelang matahari terbenam. Dan pada akhirnya lahirlah Raden Segoro, orang Madura menyebutnya Sape Kerap.  Disebelah tempat semedi Putri Dewi Ratna Rorogung terdapat bangunan seperti mushola dan makam. Nama lain Putri Dewi Ratna Rorogung adalah Potre Koneng yang berarti Putri Kuning.

Jika kalian ingin melihat pulau Madura dari ketinggian kalian bisa naik lagi. Tapi tetap hati-hati karena tepi sudah jurang yang cukup dalam. Saat sampai diatas kalian akan disugukan hijaunya pulau Madura, yang masih jarang sekali ada banguan tinggi bahkan bisa dibilang yang tinggi adalah bangunan Masjid. Sampai disana saya dan teman saya memakan cemilan dan minum sembari melihat pemandangan. Ditepi kiri ada batu yang berbentuk Goa untuk kesana kalian harus hati-hati. Karena kondisi jalan yang berbatu dan cukup licin, saran saya jangan menggunakan sendal atau sepatu yang sol yang sudah tipis agar tidak mudah terjatuh. Konon kata teman saya goa tersebut dapat mengeluarkan air dan tidak pernah habis. Namun hanya orang tertentu yang dapat mengambilnya, jika kalian penasaran dan ingin mengambilnya air itu tidak akan ada. Fungsi dari air tersebut adalah untuk obat segala sakit.

Bukit Geger terdapat banyak situs bersejarah. Diantaranya Goa Petapan, Goa Potre, Goa Planangan, Goa Pancong Pote, dan Goa Olar. Hingga kini di lokasi tersebut banyak dijadikan tempat tirakat oleh masyarakat. Baik masyarakat yang berasal dari Madura maupun dari luar. Untuk masyarakat luar Jatim, kebanyakan berasal dari Cirebon, Banten, dan Tasikmalaya. Bahkan ada yang datang dari Malaysia dan Brunei. Kebanyakan, masyarakat memilih Goa Petapan dan Goa Potre untuk tempat tirakat.

Menurut kisahnya, Goa Petapan menjadi tempat bertapa Adipodai dan Goa Potre tempat bertapa Potre Koneng. Pada Abad 13, Aryo Kuda Panoleh (Jokotole) yang bergelar Seco Diningrat III hendak berperang dengan Sampotoalang -Dampo Awang (Laksamana dari Cina). Sebelum bertempur, Jokotole menghadap Adipodai di Geger. Sampai akhirnya dia mendapat senjata pamungkas berupa pecut.

Saat bertempur, Jokotole menunggangi kuda terbang. Sedangkan Dampoawang naik perahu terbang. Dalam perang tanding satu lawan satu, Dampoawang beserta perahunya berhasil dihancurkan tepat di atas Bancaran (artinya, bâncarlaan), Bangkalan. Piring Dampoawang jatuh di Ujung Piring-sekarang nama desa di Kecamatan Kota Bangkalan. Sedangkan jangkarnya jatuh di Desa/Kecamatan Socah. Nah, berawal dari cerita itu saat ini Goa Petapan dan Goa Potre dijadikan tempat tirakat oleh masyarakat. Di dua tempat yang dianggap keramat tersebut banyak yang mendapatkan benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan mistik.

Banyak orang yang tirakat di lokasi tersebut mengaku mendapat benda gaib. Seperti kisah Sukri, warga asal Kamal, yang mengaku mendapat besi kuning dan keris penangkal hujan saat bertirakat. Selain itu, goa lain di Bukit Geger juga memiliki keunikan. Seperti Goa Pancong Pote. Goa yang berada di bibir tebing ini di saat hujan ada air yang mengalir di lantai goa yang sangat bening. Malah warnanya seperti pelangi. “Masyarakat biasa menyebutnya air tujuh warna,” ujar Sekretaris Klub Pecinta Alam Kipoleng, Drs Mas Imam Lutfi.

Sedangkan di Goa Planangan, jelas Imam, terdapat stalaktit yang menjuntai ke bawah (maaf) mirip kemaluan pria. Uniknya, air yang menetes dari stalaktit diyakini bisa menambah keperkasaan pria. Sedangkan Goa Olar disebut begitu karena di depan mulut goa ada sebongkah batu yang mirip kepala ular. Goa tersebut berada di puncak bukit.

Saya dan teman saya melanjutkan perjalanan ke makam yang berada diarea hutan negara. Sebelum menuju sana saya dan teman saya hendak ingin mendaki sampai puncaknya, namun karena tidak mengetahui jalannya akhirnya tidak kami lakukan. Disana juga bisa dibuat untuk camp dengtan tanah yang relatif landai dan pohon cukup rindang. Jika kalian ingin camp disana izin terlebih dahulu pada juru kuncinya. Sebab masih banyak terdapat hewan liar seperti ular, monyat, serta sapi menduduk sekitar.

Untuk menuju Makam kita melewati jalan setapak yang sudah dimakadam, dengan jalur yang sangat santai dan landai. Lagi-lagi saya menemukan sampah bekas makanan yang berserakan dipinggir jalan, ini sangat memperihatinkan karena hutan masih terlihat sangat alami namun banyak sampah.

Sampai disana saya tidak bisa masuk dimakam sebab saya tidak memakai jilbab, karena awal saya ingin explore saja. Saya tidak masuk karena menghargai, disana terdapat warga sekitar sedang berziarah. Saya putuskan untuk duduk didepan makam yang sudah disediakan. Disana suasananya sangat asri dan tenang, sampai dikejutkan oleh segeombolan sapi yang datang. Tapi jangan khawatir karena sapinya tidak jahat, mereka jinak. Mungkin sering dikunjungi oleh masyarakat jadinya sudah merasa biasa.

Sekian cerita pengalaman saya semoga bermanfaat untuk kalian yang ingin mengunjunginya. Pesan dari saya jangan membuang sampah sembarangan, jaga etika dan tata krama saat disana dan patuhi aturan yang dianjurkan.

 

 

 

Pin It on Pinterest

Share This