Select Page

Kampung Wae Rebo merupakan desa yang suguhkan keramahan dan keharmonisan hidup warga dan alam Flores yang indah.

Wisata Flores Indonesia Timur menghadirkan pesona surgawagi yang menyegarkan mata bagi kita yang mengunjunginya. Selain memiliki sejuta potensi wisata alam yang indah daerah ini juga memiliki beragama tempat wisata budaya yang menampilkan tradsi dan adat lokal nan eksotis, salah satunya adalah Kampung Wae Rebo yang letaknya di sebalah barat Flores Nusa Tenggara Timur.

Image result for Kampung Wae Rebo

Kampung Wae Rebo Flores merupakan sebuah perkampungan suatu kelompok masyarakat yang menetap disebuah kampung elok di Nusa Tenggara Timur bukan hanya dijadikan sebagai rumah tinggal.  Bagi masyarakat kampung ini rumah merupakan bagian bagi diri mereka. Dimana setiap rumah adat di Kampung Wae Rebo berfungsi khusus yang semuanya memiliki arti.

Konon informasi yang Direktori Wisata dapatkan dari pemandu wisata lokal yang mendampingi perjalan wisata Flores kami, pembangunan rumah adat di Kampung Wae Rebo ini tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Dan uniknya mereka tidak akan pernah membangun rumah bila mereka tidak memiliki kebutuhan tempat tinggal.

Masyarakat Kampung Wae Rebo memiliki keyakinan yang harus mereka terapkan di dalam kawasan rumah tinggal mereka dan hal ini harus dipenuhi oleh mereka yaitu adanya tempat perapian. Dimana menurut mereka api merupakan sumber kehidupan yang menjadi hal pokok harus dipenuhi.

Segala sendi kehidupan mereka termasuk rumah tergantung pada api, seperti halnya nyala api di dapur memiliki arti bahwa makanan harus selalu ada di dalam rumah, selain itu api bagi masyarakat Desa Wae Rebo juga bisa menjadi penghangat saat dingin datang menyergap di malam hari.

Api pun juga dianggap sebagai pelindung rumah bagi masyarakat Kampung Wae Rebo, dimana asap dari api dapat membuat alang-alang yang menjadi material pendukung untuk rumah menjadi awet dan tidak mudah lembab atau lapuk serta tidak di makan oleh rengat.

Seperti rumah-rumah tradisional lainnya yang ada di Indonesia, masyarakat Kampung Wae Rebo juga menganggap rumah layaknya baju, dan rumah haruslah pas dalam segala ukurannya dan menjadi kesatuan yang tidak bisa terpisahkan dari kehidupan mereka.

Related image

Bentuk bangunan rumah adat tradisional Kampung Wae Rebo yang berbentuk payungpun memiliki keunikan tersendiri yang melambangkan kedamaian dan persatuan warga.

Untuk mencapai ke lokasi Kampung Wae Rebo butuh usaha ekstra. Direktori Wisata dan teman-teman melakukan perjalan wisata Flores ke lokasi kampung ini dari Labuan Bajo. Butuh waktu  7 jam untuk sampai ke desa yang paling dekat dengan Kampung Wae Rebo, dan nama desa tersebut adalah Desa Denge. Selain memakan waktu yang cukup lama, jalan yang kami lewatipun juga berkelok-kelok.

Dan untuk mencapai Kampung Wae Rebo kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki karena tidak ada jalan untuk kendaraan bermotor menuju Wae Rebo. Rute perjalanan dari Desa Denge ke Kampung Wae Rebo jaraknya +/- 9 km atau dengan jarak tempuh waktu +/- 4 sampai dengan 5 jam

Konon, masyarakta Kampung Wae Rebo menolak jalan aspal untuk menuju kampungnya, alasanya agar budaya mereka tidak tercemar oleh pengaruh luar. Kampung ini menjadi kampung yang terasingkan dari dunia luar, karena di sekitar kampung  tidak ada kampung lain kecuali hutan dan bukit.

Kampung Wae Rebo terletak di Kampung Satar Lenda, Kecamatan Star Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Kampung ini berada di ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut dan berada di tengah lembah yang diapit oleh bukit-bukit dan hutan lebat.

Karena letak posisi kampung inilah masyarakat Wae rebo sering menyebut kampung mereka sperti berada di dalam sebuah panci yang besar. Kabut asap putih dingin yang kerap datang menyelimuti kampung sejak siang hingga malam menguatkan sebutan kampung dalam panci.

Memulai perjalananan Direktori Wisata bersama rekan-rekan untuk menikmati pesona alam Desa Wisata Wae Rebo, Flores kami menapaki jalan yang mendaki dengan melewati sungai disela pephonan besar nan rapat. Kabut putih tebal yang selalu setia menyelimuti Wae Rebo ikut menemani perjalanan. Selang empat jam perjalanan kami pun sampai di lokasi, dan Kampung Wae Rebo yang kami tuju pun terlihat jelas nan eksotis.

Sesampanya kami di lokasi, seluruh ras lelah kami pun terbayar ketika melihat aktifitas penduduk Kampung Wae Rebo yang masih tinggal di rumah adat kerucut khas Mbaru Niang. Sebuah kampung yang menjadi museum adat dan budaya Mnggarai yang terletak di seblah barat pulau Flores, dimana terlihat jelas tanah kampung ini belum tersentuh kehidupan modern dan adatnya masih terjaga. Letak kampungnya yang terpencil inilah yang membuat keaslian Wae Rebo tetap terlindung dan menjadi pusat perhatian wisatawan mancanegara.

Konon dulunya rumah adat berbentuk kerucut beratapijuk dan alang-alang seperti yang ada di Kampung Wae Rebo ditemukan hampir di seluruh kawasan Manggarai. Namun, rumah-rumah adat seperti ini agak kurang diminati oleh masyarakat Manggarai sekarang ini entah dengan alasan apa ?  Karena itu satu demi satu rumah-rumah adat krucut seperti ini menghilang dari perkampungan digantikan oleh rumah-rumah yang lebih terliht modern. Sekarang ini hanya tinggal rumah di Kampung Wae Rebo sendiri yang memiliki rumah tradisional seperti ini di Manggarai.

Image result for Kampung Wae Rebo

Dikarenakan keunikan adat dan budayanya, Kampung Wae Rebo ini pernah mendapatkan penghargaan Asia Pasific Award for Cultural Heritage dari UNESCO pada tahun 2.012 silam.

Sedangkan untuk aktifitas masyarakat Wae Rebo sendiri memiliki aktiftas kegiatan bertani dan berladang, konon pada masa lalu mereka menanam jagung, ubi talas dan segala jenis tanaman dan tumbuhan lainnya di ladang. Namun selama beberapa tahu terakhirmereka hanya menanam kopi, alasannya kopi memiliki nilai jual yang lebih tinggi ketimbang tumbuhan ladang lainnya. Dari hasil penjualan kopi mereka melengkapi kebutuhannya

Masyarakat Wae Rebo menganggap kesimbangan sangat penting dalam hidup. Dalam sendi kehidupan mereka mengikuti satu pola kehidupan yang disebut dengan pola lingkaran terpusat, pola ini dapat kita lihat di kampung dan rumah adat Wae Rebo. Di tengah kampung kita dapat menemukan tumpukan batu tua yang disusun berbentuk lingkaran yang disebut compang.

Di sekitar tumpukan batu berdiri rumah-rumah adat Kampung Wae rebo yang mengelilingi Compang, di sini terlihat jelas bahwa compang berada dan dikelilingi oleh rumah-rumah adat Wae Rebo.

Informasi yang Direktori Wisata teriima, Compang merupakan pusat kehidupan dan memiliki peran sebagai penjaga keutuhan kampung. Masyarakat Kampung Wae rebo pun menjaga batu-batu ini dengan hati-hati. Secra berkala mereka melakukan persembahan kepada Tuhan dan leluhur di batu ini agar kampungnya tetap terjaga.

Rumah adat Wae rebo pun memiliki pola serupa, dimana bentuk rumah yang terlihat bulat dengan ikatan-ikatan kayu yang mengelilinginya adalah bentuk tiga dimensi dari tiga pola lingkaran terpusat. Rumah yang disebut Mbaru Niang yang berati rumah bundar berbentuk kerucut ini memiliki sembilan tiang utama, di mana tiang-tiang rumah tersebut berpusat pada tiang-tang utama tengah yang disebut bongkok.

Rumah adat Wae Rebo memiliki lima tingkat,  Pada lantai pertama ini di bagi menjadi dua bagian yang disebut Lolang yang digunakan sebagai milik warga dimana masyarakat tinggal dan memasak dan yang satu lagi disebut Lutur yang disediakan bagi para tamu. Unuk tingkat ke dua disebut dengan Lobo atau loteng yang dipergunakan sebagi tempat untuk menyimpan bahan makanan sehari-harinya bagi masyarakat. Untuk tingkat ketiga disebut Lentar yang dijadikan sebagai tempat menyimpan benih-benih tanaman seperti jagung, padi dan kacang-kacangan.

Sedangkan untuk tingkat ke empat yang disebut Lemparae, dimana lantai ini dipergunakan sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan.  Stok cadangan makanan inii digunakan saat gagal panen atau musim kemarau yang berkepanjangan. Untuk tingkat terakhir atau tingkat ke lia yang disebut Hekang Kode digunakan untuk menyiman langkar yaitu anyaman yang terbuat dari bambu yang berbentu persegi. Konon, langkar tersebut untuk menyimpan sesajen bagi para leluhur.

Unuk kolong dari setiap rumah adat di Kampung Wae Rebo sendiri disebut Ngaung yang tingginya sekitar 1 meter biasanya dipergunakan oleh masyarakat untuk memilihara ternak atau menenun tenunan khas Manggarai.

Dari tujuh buah rumah yang ada di Kampung Wae Rebo ada satu yang dianggap rumah utama yakni rumah Gendang, dimana rumah ini lebih besar daripada 6 rumahl lainnya. Konon di rumah inilah masyarakat Wae Rebo menggelar upacara adat. Dengan melihat segala bentuk dan keindahan adat  serta kearifan lokal masyarakat kampung Wae Rebio ini tidaklah heran banyak para wisatawan yang hadir di kampung ini untuk menikmati dan belajar tentang kearifan lokal dari masyarakat di sini.

Wisatawan asing dan lokal yang datang di Kampung Wae Rebo selalu mendapatkan perlakuan yang sama seperti warga asli, Kami pun tidur beralaskan tikar, bantal dan selimut. Bagitu pula dengan menu makanan yang dihidangkan di tempat ini. Untuk menginap dan menikmati pesona desa wisata Wae Rebo ini kami harus membayar Rp. 325.000, / malam. jika kita hanya melakukan kunjungan biasa, cukup membayar Rp 100.000,- kepada kepala warga di sini.

Informasi lebih jelasnya untuk mendapatkan kisahn dan sejarah serta perkembangan dari Kampung Wae Rebo Flores ini teman-teman atau pun pembaca setia Direktori Wisata yang akan mengunjungi kampung ini dapat mampir dan bertanya di tempat perpustakaan Kampung Wae Rebo yang terdapat di Desa Denge, di sana kita akan mendapatkan segala informasi dengan petugas yang bersangkutan. Selamat menikmati pesona desa wisata Wae Rebo Flores.

Sumber: direktori-wisata.com

Pin It on Pinterest

Share This