Select Page

 Jombang-. Mungkin kalian gak asing sama nama kota satu ini, kota dimana Alm. Gus Dur dibesarkan dan merupakan kota Santri yang ada di Jawa Timur. Kota yang memiliki beragam tempat wisata alam dan religi. Tidak hanya itu, Jombang merupakan kota pertama diJawa Timur bahkan di Indonesia yang memiliki Taman ASEAN yang berada dibundaran Ringin Contong.

Kota JOMBANG menurut masyarakat awam sekarang berasal dari toponimi “Ijo-Abang” atau jika diartikan lebih jauh sebagai kota dengan karakteristik masyarakat “Ijo-an” (agamis) dan “Abangan” (moderat) yang hidup berdampingan secara rukun. Tidak ada yang salah dengan pemaknaan tersebut dan faktanya memang begitulah karakteristik masyarakat Kota Jombang.

Selain itu Jombang juga merupakan kota lahirnya seni ludruk dan besutan. Besutan? Ya, mungkin yang kalian ketahuin tokoh utamanya adalah Cak Besut yang memiliki wajah lucu dengan pakaian yang unik. Tidak hanya itu ada tokoh lain ya itu Kebo Kicak yang berperan dalam membuat kota Jombang ini. Bagaimana cara buatnya? Penasaran? Ini ceritanya?

Asal usul kota Jombang

Seperti dikutip dari Wikipedia, pada masa Kerajaan Majapahit, wilayah yang kini menjadi Kabupaten Jombang merupakan gerbang Majapahit. Gapura barat adalah Desa Tunggorono, Kecamatan Jombang, sedang gapura selatan adalah Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng. Dalam logo Kabupaten Jombang, memang terdapat gerbang dan benteng yang melambangkan bahwa zaman dahulu Jombang adalah benteng Majapahit (Mojopahit) sebelah barat.

Hingga kini banyak dijumpai nama-nama desa/kecamatan yang diawali dengan prefiks mojo-, di antaranya Mojoagung, Mojowarno, Mojojejer, Mojotengah, Mojotrisno, Mojongapit, Mojoduwur dan sebagainya. Salah satu peninggalan Majapahit di Jombang adalah Candi Arimbi di Kecamatan Bareng.

Menyusul runtuhnya Majapahit, agama Islam mulai berkembang di kawasan, yang penyebarannya dari pesisir pantai utara Jawa Timur. Jombang kemudian menjadi bagian dari Kerajaan Mataram Islam. Seiring dengan melemahnya pengaruh Mataram, Belanda menjadikan Jombang sebagai bagian dari wilayah VOC pada akhir abad ke-17, yang kemudian sebagai bagian dari Hindia Belanda pada awal abad ke-18.

Tahun 1811, didirikan Kabupaten Mojokerto, meliputi pula wilayah yang kini adalah Kabupaten Jombang. Trowulan (pusat Kerajaan Majapahit), masuk dalam kawedanan (onderdistrict afdeeling) Jombang. Alfred Russel Wallace (1823-1913), naturalis asal Inggris yang memformulasikan Teori Evolusi dan terkenal dengan Garis Wallace, pernah mengunjungi dan bermalam di Jombang saat mengeksplorasi keanekaragaman hayati Indonesia.

Tahun 1910, Jombang memperoleh status kabupaten, memisahkan diri dari Kabupaten Mojokerto. Raden Adipati Arya Soeroadiningrat menjadi bupati pertama. Dia juga biasa disapa Kanjeng Sepuh atau Kanjeng Jimat. Dia merupakan keturunan ke-15 dari Prabu Brawijaya V, Raja terakhir Majapahit.Undang-undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Kabupaten dalam Lingkungan Provinsi Jawa Timur mengukuhkan Jombang sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur.

Lantas, dari mana asal nama Jombang?  Menurut cerita yang beredar dari mulut ke mulut di kalangan masyarakat Jombang, hal ini tak lepas dari sosok Kebo Kicak dan Surontanu.

Dalam cerita itu disebutkan, Kebo Kicak adalah seseorang yang dikutuk orangtuanya sehingga memiliki kepala kebo atau kerbau. Setelah berkepala kerbau dengan tetap berbadan manusia, Kebo Kicak berguru kepada seorang kiai sakti mandraguna. Bertahun-tahun belajar pada kiai tersebut, Kebo Kicak menjadi orang soleh.

Lantas, siapa Surontanu? Konon, di sebuah kadipaten Kerajaan Majapahit yang kelak disebut Kabupaten Jombang, terdapat seorang perampok sakti bernama Surontanu. Dia adalah penjahat nomor satu dan paling ditakuti masyarakat sekitar Jombang. Tidak ada satu orang pun yang mampu menangkap Surontanu.

Alkisah, huru-hara di masyarakat didengar oleh Kebo Kicak. Atas perintah sang guru, Kebo Kicak turun gunung untuk menghentikan kejahatan Surontanu. Setelah berpetualang beberapa hari, Kebo Kicak berhasil menemukan Surontanu. Tanpa panjang lebar, keduanya beradu kesaktian. Setelah bertarung beberapa lama, Surontanu terdesak. Dia melarikan diri hingga ke sebuah rawa yang terdapat banyak tanaman tebu. Dengan kesaktiannya, Surontanu berhasil masuk ke rawa tebu. Kebo Kicak menyusul masuk ke rawa yang sekarang terletak di wilayah Jombang.

Namun, Surontanu dan Kebo Kicak yang masuk ke dalam rawa tebu tidak pernah kembali lagi. Entah apa yang terjadi dengan mereka. Hingga sekarang, masyarakat tak menemukan jasad maupun makam mereka.

Ada versi lain terkait Kebo Kicak. Salah satu versinya mengisahkan bahwa Kebo Kicak adalah sosok kesatria. Dia mengobrak-abrik Kerajaan Majapahit untuk mencari ayah kandungnya yang bernama Patih Pangulang Jagad. Setelah bertemu Patih Pangulang Jagad, Kebo Kicak diminta menunjukkan bukti bahwa dia benar-benar anak sang Patih. Cara membuktikannya tak mudah. Kebo Kicak diminta mengangkat batu hitam di Sungai Brantas. Dalam upayanya itu, Kebo Kicak harus berkelahi dengan Bajul Ijo.

Namun, sepak terjang Kebo Kicak tak sampai disitu saja. Ambisi kekuasaan yang tinggi membuat dia rela bertarung dengan saudara seperguruannya, Surantanu. Kebo Kicak berkelahi dengan Surantanu karena merebutkan pusaka banteng yang sudah diakui milik Surantanu. Lokasi Kebo Kicak dan Surantanu berkelahi berpindah – pindah. Sebagian besar lokasi yang mereka buat berkelahi diabadikan menjadi sebuat nama desa. Konon ceritanya, pertarungan dua saudara tersebut sangat dasyat. Keduanya saling beradu kesaktian hingan muncul cahaya hijau (Ijo) dan cahaya merah (Abang). Dari kata Ijo dan Abang inilah muncul sebutan Jombang.

 

Selain itu Jombang juga memiliki Icon atau simbol yang menarik dan memiliki sejarahnya.

Ringin Contong

Pra abad 20
Mengapa Ringin Contong dipandang sebagian warga masyarakat Jombang begitu penting sebagai ikon kota berjuluk kota santri ini? Ada baiknya kita telusur arti penting Ringin Contong dari berbagai sudut pandang. Pertama dari kajian etnografi atau yang bersumber dari cerita rakyat sebagai kekayaan folklor/tradisi kolektif masyarakat Jombang, yaitu cerita Kebokicak Karang Kejambon. Alkisah ketika terjadi pengejaran Kebokicak terhadap Surantanu dan Banteng Tracak Kencana yang akan digunakan sebagai tumbal terkait munculnya pageblug/wabah penyakit yang sulit disembuhkan di daerah padepokan Pancuran Cukir, Kebokicak berteduh di bawah pohon raksasa. Setelah melihat langsung pohon raksasa itu akhirnya tempat persinggahan tersebut dinamakan Ringin Contong.

Pembangunan
Kedua ditanamnya pohon beringin oleh bupati Jombang pertama Raden Adipati Arya Soeroadiningrat V atau lebih akrab disebut Kanjeng Sepuh pada tanggal 22 Februari 1910, bertepatan dengan peletakan batu pertama pembangunan pendapa kabupaten Jombang. Pada tanggal tersebut Kanjeng Sepuh sekaligus menanam dua pohon beringin sebagai simbol pengayoman. Satu pohon beringin kunthing ditanam di depan pendapa, sedangkan satunya ditanam tepat di lokasi Ringin Contong sekarang.

Sebagai acuan titik nol
Ketiga ditetapkannya Ringin Contong sebagai acuan titik nol jarak antar wilayah di kabupaten Jombang maupun antar kota dengan pusat kota santri ini. Keputusan ini barangkali sejalan dengan penetapan batas-batas kota Jombang oleh pemerintah Hindia Belanda yang pada saat itu berkedudukan sebagai ibukota Afdeeling Jombang yang terletak di Karesidenan Surabaya. Penetapan ini tepatnya terjadi pada 20 September 1877 yang dimuat dalam lembaran negara no. 172 (Staatblad van Nederlandsch-Indie Besluit van den Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie van 20 September 1887 no.2/c).

Dibangun menara air oleh pemerintah Hindia Belanda
Keempat dibangunnya menara air pada tahun 1929 oleh pemerintah Hindia Belanda. Meskipun bangunan ini bukan ringin contong yang dimaksud, tetapi sebagian besar warga Jombang menganggap menara air tersebut bagian tak terpisahkan dari situs Ringin Contong. Posisi Ringin Contong di Titik Nol memang memiliki arti yang sangat berharga sebagai episentrum kota Jombang. Karena nol identik dengan kosong, sedangkan dalam kekosongan ada kesadaran akan Yang Maha Satu. Artinya di titik nol itulah sebenarnya sumber kekuatan sebagaimana roda berjeruji yang titik tumpunya pada titik sumbu/as yang berada di tengah roda. Ringin Contong kita analogikan sebagai sumbu sebuah roda wilayah bernama Kabupaten Jombang

 

Taman ASEAN

Segenap unsur masyarakat dan pemerintah Kabupaten Jombang yang hadir pada upacara peresmian Taman ASEAN di Jombang, Jawa Timur menjadi saksi sejarah. “Jombang didapuk sebagai daerah pertama di Indonesia yang memiliki Taman ASEAN”, ungkap Isman Pasha, Kasubdit Kerja Sama Pembangunan Sosial, Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN, Kementerian Luar Negeri di sambutannya pada acara peresmian Taman ASEAN dan pengibaran bendera ASEAN di Jombang, Jawa Timur (2/6). “Kita tahu tokoh bangsa dan pendiri Nahdlatul Ulama juga lahir dan ada di Jombang. Untuk itu, tepat kiranya jika kami memperkenalkan kekuatan toleransi yang digagas para tokoh dari Jombang itu kepada para pemuda ASEAN,” jelas Bupati Jombang, Drs. Nyono Suharli Wihandoko yang hadir dan menandatangani prasasti peresmian Taman ASEAN tersebut. “Jombang punya sejarah panjang yang menjunjung tinggi dan menghormati keberagaman. Jombang menjadi laboratorium sekaligus contoh yang layak untuk diperlihatkan kepada masyarakat internasional sebagai pengejewantahan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” sambung Isman.

Peresmian Taman ASEAN tersebut diharapkan tidak berhenti hanya pada tataran seremoni. Kerja sama lebih nyata dari kerja sama dalam ruang lingkup ASEAN kiranya dapat lebih diarusutamakan oleh daerah-daerah di Indonesia, termasuk Jombang.

Dengan potensi jumlah tenaga kerja industri lebih dari 63 ribu jiwa, Jombang diharapkan mampu bersuara lebih di kancah ASEAN yang kini sudah tidak lagi bersekat. Calon bidan dan perawat yang digembleng di 6 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan setempat kiranya dapat menjadi salah satu kunci masuk Jombang menuju pasar ASEAN. Untuk itu, dibutuhkan pembekalan lebih, seperti kemampuan Bahasa Asing guna meningkatkan daya saing tenaga kerja setempat

Acara pengibaran bendera dan peresmian Taman ASEAN tersebut dihadiri oleh, diantaranya, jajaran pemerintah daerah, perwakilan DPRD Jombang, pihak kepolisian, TNI, pemuka agama, forum kerukunan umat beragama dan mahasiswa Jombang juga dari lintas agama. Kegiatan ini merupakan rangkaian pembuka menuju (road to) ASEAN Youth Interfaith Camp 2017 (AYIC 2017) atau Kemah Lintas Kepercayaan Pemuda ASEAN yang akan diselenggarakan bulan Oktober 2017 di Jombang, Jawa Timur.

 Dengan mengambil tema “Tolerance in Diversity for a World Harmony”, AYIC 2017 akan mengundang perwakilan pemuda dari negara anggota ASEAN dan mitra. Inisiatif ini merupakan kerja sama Kementerian Luar Negeri dengan Pemerintah Kabupaten Jombang dan Pusat Studi ASEAN Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (PSA UNIPDU) Jombang Jawa Timur. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-50 ASEAN yang jatuh pada tanggal 8 Agustus 2017
Demikian kisah asal usul kota Jombang, semoga makin membuat Anda senang mempelajari sejarah di Indonesia Trimakasih.

 

 

Pin It on Pinterest

Share This