Select Page

Memperingati Hari Raya Karo Tahun Saka 1940, warga Suku Tengger, Kabupaten Probolinggo, menggelar Tradisi Sodoran yang digelar di Balai Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kamis.
Tradisi Sodoran, mengisahkan sebuah prosesi terciptanya manusia, melalui sebuah perkawinan antara kaum pria dan wanita.
Dalam tradisi tahunan ini, iring-iringan mempelai pria diarak dari Desa Jetak, menuju Balai Desa Ngadisari.

Arak-arakan sendiri, disertai dengan membawa sejumlah pusaka warga Suku Tengger, atau biasa disebut Jimat Klontong, yang berusia ratusan tahun.


Tari Sodoran Gambarkan Warga Tengger Cinta Nenek Moyang di Hari Raya Karo (Foto: Risty)

Hal sama dilakukan mempelai wanita, ia diarak dari Desa Wonotoro menuju Balai Desa Ngadisari. Dalam arak-arakan itu, kedua mempelai diiringin oleh musik gamelan.

Setelah bertemu di depan Balai Desa Ngadisari, keduanya kemudian diantar menuju kursi pelaminan yang ada di dalam Balai Desa Ngadisari.Di lokasi tersebut, kedua mempelai disambut warga Suku Tengger, lengkap dengan pakaian adatnya, serta berbagai macam sesajian.

Usai duduk di pelaminan, kedua mempelai lantas mengikuti upacara penyucian Pusaka Tengger, berupa pusaka berupa Gayuh, Tanduk Banteng, dan Tombak Sodor berusia ratusan tahun.


Tari Sodoran Gambarkan Warga Tengger Cinta Nenek Moyang di Hari Raya Karo (Foto: Risty)

Dalam penyucian itu, sesepuh Suku Tengger lantas bertindak sebagai tokoh yang mengawal dibacakannya mantra.

Puncak tradisi Sodoran yakni, menampilkan tarian dari kedua mempelai, yang menggambarkan penciptaan benih bopo laki-laki, dan babu wanita oleh Sang Hyang Widi di jagat raya.

Baca Hadiri Upacara Adat Seren Taun, Moeldoko Tegaskan Inovasi Teknologi Harus Tetap Perkokoh Budaya
Tokoh masyarakat Suku Tengger, Supoyo mengungkapkan, jika tradisi Sodoran sudah ada semenjak tahun 1790 lalu.


Tari Sodoran Gambarkan Warga Tengger Cinta Nenek Moyang di Hari Raya Karo (Foto: Risty)

Tradisi sodoran merupakan, peninggalan warisan budaya turun temurun, dimana mengisahkan awal mula pencintaan manusia berpasang – pasangan antara laki-laki dengan perempuan.

“Harapannya, melalui tradisi ini kita diselamatkan dari mara bahaya,” terang Supoyo.

Senada disampaikan, Yulius Christian, selaku Camat Sukapura. Tradisi sodoran dalam upacara Karo, sudah menjadi jiwa bagi warga Suku Tengger, dimana sudah menjadi sebuah kebiasaan, yang harus dilaksanakan tiap tahunnya.

“Ini sudah menjadi tradisi rutin warga Suku Tengger, dan berlangsung turun temurun. Dalam tradisi ini, warga pun kompak memberikan sesajinya,” terang Yulius.

Baca Tancapkan Merah Putih, Ribuan Warga Tengger Bromo Ikut Apel Pramuka
Seperti biasa, usai upacara Karo kaum wanita Suku Tengger, kemudian masuk ke areal Sodoran, sambil membawa makanan untuk suaminya.

Bagi masyarakat Suku Tengger, hal itu merupakan perwujudan simbol keharmonisan, antara bopo dan babu, atau pria dan wanita yang berpasangan. (Risty)

sumber:qarao.com

 

Pin It on Pinterest

Share This